Senin, 28 Januari 2013

Kondisi Sosiologi Masyarakat Tambleg


Banyak hal yang begitu  menarik ketika berbicara mengenai Kampung Tambleg. Tambleg adalah salah satu kampung yang sangat indah, sejuk, dan nyaman terletak di daerah Desa Cidikit, Kec. Bayah Kab. Lebak Prov. Banten. Letak georgarafisnya terdiri dari daerah pegunungan gunung pasir Malang menurut salah seorang tokoh yakni bapak Parta pada saat diwawancarai menyebutkan bahwa kampung ini adalah lokasi tempat batu besi yang tempat itu di jaga oleh batu keris 7 lapis, konon katanya tempat ini banyak mengandung emas, tapi emas tersebut baru bisa di dapatkan setelah bisa menembus pejaganya yakni batu keris 7 lapis.
Pak Parta menyebutkan bahwasannya penamaan Tambleg di ambil dari bahasa sunda dengan akar kata Namleg artinya melekat, diam, berhenti. Kemudian dengan seiring perubahan kata maka daerah tersebut namanya berubah nama menjadi Tambleg maksudnya bila ada orang yang berkunjung ke daerah ini maka biasanya orang tersebut akan merasa adem, nyaman dan betah untuk mukim disini, setiap orang yang yang berniat jahat maka akan takluk dan tidak ada apa-apanya berhadapan dengan orang Tambleg.
Informasi lain yang didapatkan dari ketua adat (red. Bapak Sadna) beliau menceritakan bahwa awal mula kampung Tambleg ini diawali ketika saat anak-anak dari sebuah keluarga berkumpul, datanglah seorang ayah dan memberi nama kampung ini dengan kampung Tambleg, konon katanya kata Tambleg ini merupakan kirata (dikira-kira tapi nyata) maksudnya perkiraan orang-orang tua dahulu yang biasanya menjadi kenyataan, katanya Tambleg ini adalah tempat menyimpan barang-barang pusaka yang sudah lama terpendam, kampung Tambleg mengandung arti tempat menyimpan barang-barang lama. Pada zaman dahulu nenek moyang kampung ini memperediksi bahwasannya nanti pada suatu saat beberapa tahun ke depan akan ada orang dari tepi pantai selatan mengungsi karena tanah dan tempat orang-orang pantai selatan tersebut akan habis dibeli oleh orang-orang bule, dan akan ada bangunan-bangunan dan yang mengisinya adalah para sarjana dan para santri juga akan ada lapangan kerja yaitu lokasi batu besi yang luasnya 25 Hektar, akan ada juga jalan lintas antara pantai Sawarna sampai daerah Bogor, dan ternyata prediksi tersebut pada saat ini jadi kenyataan misalnya: di daerah ini banyak tambang besi dan emas, pernah kedatangan Menteri Agama Drs. Surya Dharma Ali, para pejabat  dan para tokoh lainnya ketika terjadi ambruknya bangunan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) yang menewaskan 1 orang siswa.
Pada zaman dulu mula-mula yang membuat rumah disini yaitu Uyut Isah ada juga yang menyebutnya bapak Iska, pada waktu awal mula kedatangannya daerah ini masih berbentuk hutan belantara, kemudian bapak Isah membukalah perkampungan baru dan selanjutnya beliau memiliki 5 (lima) orang anak yaitu yang bernama: Sarim, Alman, Rapiah, Sakmendi, dan Iti.
Sumber lain menyebutkan Uyut Isah ini memiliki putra/I uyut Udi (keturunannya ki adot, nini arheni, ki haya), uyut Lami’ah (keturunannya ma Tata, ki Aryana, Ki alhana, ni aspeni), ma tata memiliki putra bernama: ki Madhari (ayahnya Pak Adtoni), ki mihad (Naga Mekar), Sahati (keturunannya Salwinah, Zaed, Saedi) uyut Iti, Salwinah (keturunannya abah Ukar, Pak Parta, Rumsiti (Naga Jaya), Suanah, Sukmanah )  Pak Parta (Ali, Neli) cucu (Yogi, Yuni, Anto, Bayu, Jamil) penduduk yang sekarang kebanyakan dari keturunan uyut lamiah. Seiring berjalannya waktu akhirnya uyut Isah dipanggil Ilahi meninggal dunia sekarang makamnya berlokasi di dekat lapang sepak bola. Selanjutnya beliau memiliki keturunan dan bermukim di sini tidak merantau tapi menetap di Tambleg sehingga lama kelamaan penduduk Tambleg semakin banyak sampai sekarang kurang lebih ada 120 KK.

Demikianlah sedikit cerita mengenai sejarah Tambleg. Begitu banyak hal menarik yang didapatkan setelah mengunjungi Kampung Tambleg, Desa Cidikit, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Terutama mengenai keadaan masyarakatnya. Seperti suasana pedesaan pada umumnya, pertama kali mengunjungi daerah tersebut, kita dapat merasakan suasana kekerabatan yang amat kental, kontras  jika dibandingkan dengan lingkungan perkotaan yang masih mengutamakan individualisme masing - masing. Tak heran,  sebagian besar dari warganya memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan mereka bersikap defensive, mereka bersikap terbuka sekali dan begitu ramah terhadap pendatang. Senyuman dan sapaan hangat menjadi makanan sehari – hari masyarakat Tambleg. Begitu pun ketika kita lewat di depan rumah mereka, tak segan – segan mereka mempersilakan untuk berkunjung dan memberi makanan yang tak sedikit.
             Sebagian besar dari mereka bermatapencaharian sebagai petani. Mereka memiliki sawah dan lading mereka sendiri untuk bercocok tanam. Pagi – pagi sekali mereka sudah berangkat dan pulang di sore hari untuk mengurusi sawah mereka. Walaupun usia mereka sudah tak lagi muda tetapi terlihat semangat mereka yang begitu luar biasa. Kekuatan fisik memang menjadi kelebihan mereka. Karena itu, mereka jarang sekali membeli bahan makanan pokok untuk dikonsumsi. Mereka  mengambil hasil pertanian dan perkebunan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Padi, jengkol, singkong dan pete menjadi bahan makanan favorit yang ada di masyarakat Tambleg.
Hal – hal yang berbau mistis masih melekat kuat pada masyarakat di sana. Kepercayaan – kepercayaan seperti upacara adat, pemberian sesajen dan hal – hal spiritual lain menjadi tradisi yang susah dihilangkan dalam masyarakat. Padahal, seluruh warga Tambleg adalah muslim, tetapi tetap saja kepercayaan nenek moyang tersebut tak dapat dipisahkan. Ada juga yang cukup mengganggu yaitu banyaknya anjing berkeliaran dimana – mana. Tak tahu pasti apakah itu anjing peliharaan orang ataupun anjing liar, yang jelas mereka dibebaskan begitu saja, berkeliaran dimana – mana. Memang anjing tersebut tidak mengganggu, tetapi bagi umat muslim cukup menjadikan was – was dengan anjing yang berkeliaran dan menginjak lantai – lantai rumah warga.
Dari segi pendidikan, bisa dikatakan pendidikan masyarakat Tambleg masih begitu rendah. Di sana hanya ada sebuah sekolah dasar dan sebuah SMP dengan fasilitas yang dikatakan kurang memadai. Pernikahan dini masih marak terjadi di kalangan masyarakat. Parahnya, budaya kawin – cerai juga merupakan hal yang biasa di Kampung tersebut.  Banyak hal yang harus diperbaiki di sana. Semoga akan banyak orang – orang yang datang ke sana untuk menginspirasi dan memperbaiki kondisi masyarakat di Tambleg.



Belajar Baca Yukk!!!


 Eta huruf A .. tingali huruf A .. tunjuk huruf A …eta huruf A
Eta huruf B .. tingali huruf B .. tunjuk huruf B …eta huruf B
Eta huruf C .. tingali huruf C .. tunjuk huruf C …eta huruf C
            Suara nyanyian peserta PBA ( Pemberantasan Buta Aksara ) membahana di teras rumah Mak Isah. Lagu karangan tim PBA blok lapangan yang disadur dari salah satu lagu bahasa Inggris yang diajarkan oleh Pak Amru memang menjadi hiburan khusus sekaligus pembelajaran bagi mereka. Mbak Darni mencontohkan lagu itu dengan penuh semangat sambil menunjuk ke kertas kumpulan huruf alfabet. Sengaja kami mentranslete lagu itu dalam bahasa Sunda dengan alas an supaya bisa lebih masuk ke kepala mereka, juga karena beberapa dari mereka tidakterlalu bisa berbahasa Indonesia.
            Masih terbayang dalam ingatan sewaktu pertama kali aku dan Sani melakukan survey pertama dari rumah ke rumah di daerah lapangan untuk mengetahui siapa saja yang buta aksara di daerah tersebut. Dengan berbekal bahasa Sunda yang sangat minim kami mencoba mengetuk pintu demi pintu. Sebagian besar warga di daerah tersebut ternyata kurang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang membuat kami cukup kewalahan. Proses survey selalu dilengkapi dengan kalimat “ Maaf bu, abdi teh teu tiyasa bahasa Sunda .“ Hanya itu yang kami pahami. Walaupun begitu keadaannya , dengan menggunakan bahasa tubuh dan bahasa campur aduk tak karuan, Alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancer.
            Aku begitu bahagia melihat peserta PBA yang begitu semangat. Usia tak menjadi kendala bagi mereka untuk terus menimba ilmu. Aku jadi malu sendiri, dengan usiaku yang masih terbilang muda ini terkadang aku malas – malasan untuk belajar. Sekitar 10 orang –an selalu hadir di rumah Mak Isah, tempat pembelajaran PBA setiap sorenya. Tak tampak wajah lelah di raut muka ibu – ibu dan bapak walaupun  mereka telah seharian bekerja di sawah.  Pada awal pertemuan yang dilakukan secara klasikal, setelah dievaluasi ternyata ada 3 kriteria yang bisa dikelompokkan. Kelompok pertama yang benar-benar tidak bisa sama sekali, kelompok kedua yang bisa sedikit – sedikit dan kelompok ketiga yang sudah lumayan lancer menulis dan membaca. Demi keefektifan proses pembelajaran, kami  membagi tugas berdasarkan ketiga criteria tersebut di pertemuan berikutnya. Kami menggunakan berbagai macam media pembelajaran seperti karton yang berisikan huruf alphabet, flash card ataupun bacaan. Berbagai usaha kami lakukan untuk membuat proses pembelajaran semenarik mungkin supaya mudah ditangkap oleh mereka.
            Permainan menyusun huruf, menyanyi dan berbagai macam tepukan melengkapi kegiatan kami setiap harinya.  Bukan hal yang mudah memang untuk mengajarkan orang yang sudah tua. Perlu kesabaran yang besar karena mereka akan begitu cepat melupakan apa yang telah ,diajarkan. Terlebih orang – orang lanjut usia yang belum mengenal huruf sama sekali. Tetapi melihat perjuangan mereka yang pantang menyerah membuat kami juga terus bersemangat membagikan ilmu kami. Semoga semangat belajar mereka tak berhenti walaupun kami sudah tak ada di Tambleg.

Arti Sebuah Kerinduan


From Bu Hen
01-01-2013 11:47:16 am
Ba sudh nype mana skrng?blz
01-01-2013 12:09:17
Hti2 ya nak, Ibu dn Bapa kayanya ditinggal mati aja, maunya nangs aja dari tdi, doain aja ya nak ibu dn bapa spya banyk rizki dn sht, kmu nggk apa2 dimbl?
01-01-2013 08:40:27 pm
Bak dh nype blm, mari kta mkn brsma ibu dn bapa, ibu sedng mkn
01-01-2013 09:06:59 pm
Bgaimana slmt smuanya? Trimaksh klu slmt
02-01-2013 12:39:36
Ass,,bak dh mkn siang blm? Ibumh sdng mkn siang disaung, mri kta mkn brsma, bnr ba puisi yg ibu buat bukan omong bohong tpi bikn ibu nangs aja teringt kmu dn jg tmn2 yg biasa krmh ibu, blngin sma tmn ibu tk than mndgr suarmu
03-01-2013 05:31:48 pm
Tdi ibu bkn krpk pisang smbl nangs tringt kamu ska blng sma ibu, msk apa ibu?itu tringat aja, sdh dimkn kripiknya?




From Pak Ruskanda
01-01-2013 08:38:29 pm
Ba yusi, apa kesalahan bapa dan apa kekurangannya mohon dimaafpin dan adik kamu didi bapa sembuhka nangis sama ibu doakan ba’ beri  rizki da umur yang panjang nanti bisa ketemu lagi

02-01-2013 02:48:45 pm
Ba didi cariin katanya makan ba. Sambil nangis katanya kemana
                Tertegun aku melihat sms - sms yang dikirimkan oleh bapak dan ibu baruku dari Kampung Tambleg. Pesan yang dikirim bahkan hanya beberapa jam setelah aku berangkat  ke Bogor. Begitu menyayat hati. Aku tak menyangka keluargaku itu begitu menyayangiku.  Aku tak pernah menerima pesan – pesan seperti itu dari keluarga asliku.  Aku begitu heran karena itu tampak begitu berlebihan bagiku, tapi mungkin begitulah cara mereka mengungkapkan emosi mereka. Begitu ekspresif. Sebegitu berartikah aku di mata mereka. Teringat tangisan dan pelukan ibuku ketika aku berpamitan setelah 3 minggu kami tinggal bersama. Hanya 3 minggu tapi meninggalkan seribu makna. Keluarga yang baik hati yang membuatku begitu trenyuh. Ibuku yang begitu perhatian dan sabar,  juga bapakku yang luar biasa rajinnya. Bapakku di waktu luangnya tak segan – segan mengurusi urusan rumah tangga seperti memasak, menyapu ataupun mengepel di rumah. Mereka begitu rendah hati, selalu mengatakan bahwa mereka tak punya apa – apa, tak bisa memberi apa – apa, padahal banyak sekali yang mereka berikan kepadaku.  Keluarga yang sederhana yang mengajarkan banyak hal  mengenai kehidupan.
                 Di pagi hari, sebelum subuh berkumandang mereka sudah terbangun dan dengan kompaknya membuat api di atas “hau” untuk memasak air dan nasi. Udara dingin yang menusuk tulang – tulang rusukku seakan tak terasakan oleh bapak ibuku. Tampak raut keikhlasan dan ketulusan di wajah mereka. Ada lagi hal yang membuatku terharu. Kebetulan kamar mandi yang kami punyai adalah kamar mandi tadah hujan, yaitu kamar mandi yang airnya berasal dari air hujan yang ditampung dan disaring. Jadi keberadaan air di kamar mandi tergantung hujan yang turun, kalau tidak ada hujan bak akan kosong. Semakin deras hujannya maka air yang tertampung semakin banyak, begitu pula sebaliknya. Di rumahku, terkadang air tinggal sedikit jika tidak ada hujan ataupun jika hujan yang turun sedikit. Tetapi ibuku selalu menenangkanku dan berkata “ Sudah mbak..nggak usah khawatir dengan airnya. Dipakai saja, biar nanti ibu ke sumur aja, “ katanya. Memang terkadang ibu melakukan aktivitas yang membutuhkan air seperti mandi, mencuci piring ataupun mencuci baju di sumur umum. Terkadang juga bapakku bela – belain mengangkut air untuk memenuhi isi bak mandi. Kadang ketika air yang di bak tinggal sedikit, aku tak enak untuk menggunakan air banyak – banyak, kuurungkan niatku untuk mencuci. Ibuku sepertinya bisa membaca pikiranku seraya berkata “ Kalau mau nyuci ya nyuci aja mbak.  Nggak usah dipikirin masalah airnya. Nanti biar bapak dan ibu ke sumur aja. “ Terus terang aku merasa terharu melihat pengorbanan mereka yang tulus. Mereka rela berkorban mengesampingkan kepentingan mereka demi aku. Walaupun aku baru dalam kehidupan mereka, tetapi mereka sudah menganggapku seperti anak sendiri. Pernah juga suatu ketika aku merendam cucian untuk kemudian kucuci. Tetapi saat aku mau mencucinya aku melihat bajuku sudah tidak ada di kamar mandi. Aku mencarinya kemana – mana dan ternyata aku melihat bajuku sudah ada di jemuran. Ibuku mencucikan bajuku. AKu benar – benar merasa tak enak hati. “ Nggak pa-pa mbak. Itu tadi sekalian ibu nyuci juga jadi ibu cucikan ,“ kata ibuku beralasan.  Aku hanya terdiam tak tahu harus berkata apa.
 Begitu pun kalau aku pergi kemana – mana, kalau aku pergi lama sedikit saja mereka akan mencariku ke rumah – rumah di desa. Perhatian yang luar biasa sekali menurutku.  Ahh…aku jadi begitu merindukan mereka. Kalimat khas mereka setiap waktu makan “ Mbak …makan mbak …” yang selalu ditirukan oleh adikku Didi masih terbayang jelas diingatanku. Karena itu, membaca sms bapakku yang terakhir selalu membuatku ingin menangis. Kapan ya kami akan bertemu kembali? Semoga jarak dan waktu tidak akan dapat memisahkan kedekatan hati kami.

Sebutir Nasi Sejuta Keringat


Lama rasanya aku tak pergi ke tempat itu. Hamparan hijau yang terbentang luas dengan genangan air dan tanaman yang tumbuh di atasnya membuat suasana menjadi  begitu asri dan sejuk. Akhirnya di sinilah, di Kampung Tambleg Banten, aku menemukannya kembali. Memanglah benar sudah lama aku tak melihat sawah secara langsung. Dulu sewaktu aku masih kecil, sawah masih aku temukan di kampungku. Tetapi sekarang semuanya telah berubah, sawah itu telah disulap menjadi perumahan – perumahan mewah yang disewakan. Sampai aku besar pun aku belum menemukan sawah lagi karena aku selalu merantau ke daerah perkotaan. Ketika aku merantau ke Jakarta selalu terbersit keinginan untuk pergi ke daerah pedalaman yanga sri, tenang  dan nyaman tanpa ada polusi, kemacetan dan kesumpekan di jalanan. Kemudian doaku terjawab sudah. Warga Kampung Tambleg sebagian besar berprofesi sebagai petani dan memiliki sawah sendiri. Begitupun dengan induk semangku.
            Pada suatu kesempatan, aku mencoba ikut bapak dan ibu induk semangku ke sawah untuk mengetahui kegiatan mereka. Ternyata jarak antara rumah dan sawah tak bisa dibilang dekat. Entah mengapa begitu berat menopang tubuhku untuk berjalan kaki lumayan jauh. Kami melewati jalan setapak yang licin dan penuh dengan lumpur. Karena tak terbiasa, aku berjalan cukup lama, jauh di belakang bapak dan ibuku, bahkan adikku Didi yang masih berumur 4,5 tahun. Bolak – balik aku terpeleset dan tanganku penuh dengan tanah karena berpegangan takut jatuh. Sungguh aku tak terbiasa. Setelah hamper setengah jam berjalan  akhirnya sampai juga aku di sawah orang tua baruku. Di atasnya terdapat sebuah saung kecil yang terbuat dari bamboo. Ibuku kemudian membuat api di depannya untuk mengusir nyamuk. Kurasakan keindahan alami dan kesejukan udara yang berhembus dengan pemandangan yang menakjubkan. Subhanallah sekali ciptaan Allah yang satu ini.
            Tugasku hari itu adalah memupuk padi. Istilahnya di sana yaitu “ ngeberak padi”. Di waktu – waktu sebelumnya sawah sudah dibajak dan ditanam padi, kemudian tiba waktunya untuk memupuk padi. Pupuk yang digunakan yaitu campuran antara pupuk Urea dan NH3. Caranya cukup mudah, hanya menaburkan sedikit saja campuran pupuk tersebut ke masing – masing padi yang sudah ditanam. Harus juga dipastikan bahwa tidak ada satu padi pun yang terlewati. Sepertinya mudah, tetapi kenyataannya cukup membuatku merasa kesulitan. Ketika aku tenggelamkan kakiku ke sawah dan mulai memupuk tak jarang aku menginjak padi yang di belakangnya. Karena jarak antar padi cukup dekat, membuat aku harus lebih berhati – hati untuk berjalan. Awal – awalnya aku sangat bersemangat, lama kelamaan aku mulai kelelahan. Aku melihat ke depan sawah yang terbentang sangat luas dengan ratusan padi di atasnya dan aku harus memupuk mereka satu persatu. Aku menghela nafas panjang, mencoba mengembalikan seluruh semangatku. Diam – diam aku mengagumi ibuku yang dengan sabarnya dan tampak lelah berjalan memupuk satu persatu padi di depannya. Secara usia mungkin aku lebih muda, tetapi tampak ibuku lebih kuat dan lebih semangat dariku. Aku jadi malu sendiri. Beberapa jam kemudian akhirnya selesai juga acara pemupukan itu. Aku bernafas lega. Aku merasakan ternyata tak cukup mudah untuk mengurus sawah, perlu energy dan semangat ekstra melakukannya. Hal itu member petunjuk membuatku lebih bersyukur dengan keadaan yang ada sekarang dan yang pasti tidak boleh membuang – buang nasi karena seperti kata pepatah “ Sebutir Nasi Sejuta Keringat “

Kondisi Wilayah Tambleg


Oops….lagi – lagi aku terpeleset batu yang licin. Sandal gunungku sudah tak jelas lagi warna aslinya. Warnanya sudah berubah menjadi coklat muda penuh dengan lumpur. Aku memperlambat jalanku. Jalanan turun yang penuh dengan bebatuan. Hujan membuat jalanan begitu licin sehingga membuatku harus lebih berhati – hati. Tidak ada jalanan beraspal di tempat tersebut. Yaa…itulah keadaan wilayah Kampung Tambleg, Desa Cidikit, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten.. Masih begitu konvensional. Seperti belum terjamah dunia luar. Untuk ke kota saja perlu perjalanan panjang dan waktu yang begitu lama. Bahkan mobil pun tak bisa masuk ke tempat itu. Jalanan sempit bebatuan yang hanya dapat diakses dengan berjalan kaki atau sepeda motor. Untuk mengendarai sepeda motor di daerah tersebut juga bukanlah hal yang mudah, perlu skill khusus kalau tidak pasti akan terpeleset. Banyak korban pengendara sepeda motor yang tidak bisa mengendalikan sepeda motornya yang kemudian terjatuh.
            Ketika aku sampai di sana aku sebenarnya masih merasa tercengang. Masih ada ya tempat seperti ini di zaman modern, pikirku waktu itu. Semuanya tampak begitu alami. Listrik saja katanya baru ada setahun yang lalu. Untungnya ketika aku datang, listrik sudah ada di sana, walaupun terkadang listriknya sering mati ketika hujan. Hanya saja di jalanan, penerangan sungguh kurang. Tak ada lampu jalan. Jadi  kalau kami mau keluar di malam hari perlu membawa senter atau alat lain yang bisa menerangi kami.
            Hawa dingin Tambleg di pagi hari selalu merasuk ke dalam tubuhku. Kabut yang melengkapi kealamian kampong tersebut menemani hari – hariku di sana. Kalau kita mencoba meniup udara, kita bisa melihat uap air dari mulut yang keluar seperti kabut putih, serasa di Korea. Untuk berkomunikasi menggunakan handphone pun hanya dapat dilakukan di tempat – tempat khusus. Tak ada sinyal, yang membuatku cukup kelimpungan karena bagiku handphone sudah menjadi barang primer. Begitu susah menghubungi keluarga, kerabat ataupun sahabat, benar – benar membuatku tak habis pikir, bagaimana orang – orang disini menjalani kehidupannya. Semuanya serba terbatas. Untuk mendapatkan barang yang diinginkan saja harus pergi ke kota. Itu pun membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.
            Sawah dan ladang menjadi pemandangan keseharianku di sana. Di mana – mana terlihat hijau. Sangat kontras jika membandingkannya dengan kehidupan di ibukota. Kepadatan lalu lintas, polusi udara, kriminalitas hamper tidak ada di Kampung Tambleg. Awalnya aku heran banyak penduduk di sana dengan santainya meninggalkan rumah mereka tanpa dikunci. Mereka merasa aman karena memang jarang sekali ada kasus pencurian di sana. Begitulah kehidupan di Kampung Tambleg, kampung pelosok yang memiliki banyak cerita penuh makna.


Keluarga Baruku


Perasaan dag dig dug tak karuan aku rasakan ketika sampai di Kampung Tamblek, Desa Cidikit, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Masih belum terbayang dalam benakku bagaimanakah keluarga yang akan menjadi induk semangku. Yaa… untuk program KKN bertemakan SHARE ( SGI Help And Care ) yang merupakan rangkaian program Sekolah Guru Indonesia ini, setiap peserta SGI 4 akan ditempatkan dalam setiap rumah yang berbeda di kawasan Kampung Tambleg, Banten. Harap – harap cemas karena kita tidak tahu bagaimana kondisi keluarga yang akan kami tempati nanti.
            Kupandangi sejenak tempat tinggal baruku dari luar. It’s not really too bad, tidak seperti yang kubayangkan. Bahkan tempat KKN-ku dulu sewaktu aku kuliah jauh lebih parah. Rumahnya mungil, tetapicukup modern, tidak seperti rumah – rumah lain di lingkungantersebut yang masih tampak begitu tradisional. Di rumah baruku ini lantainya beralaskan keramik dan dindingnya juga sudah menggunakan tembok. Kulihat ada poster besar di dinding depan rumah yang bertuliskan “ Posyandu “. Ohh… aku baru tahu bahwa rumah yang akan kutempati ternyata adalah rumah salah satu kader Posyandu yang biasa dijadikan untuk tempat kegiatan tersebut.     
            Seorang ibu separuh baya berkulit sawo matang tersenyum menyambut kedatanganku. Itulah ibu baruku. Bu Hena namanya. Sewaktu aku datang, tepatnya di malam hari, suami ibu itu yaitu Bapak Ruskanda sedang tidur di depan ruang televise. Bapak baruku kemudian terbangun melihat kedatanganku. Sempat tak enak hati karena telah mengganggu tidur beliau. Pak Ruskanda, begitulah biasanya orang lain menyebut. Tampak sangar dengan kumisnya, tetapi orangnya baik hati. Aku hanya berharap mereka bisa menjadi keluarga yang baik bagiku. Aku yakini bahwa apapun keteteapan Allah itu merupakan yang terbaik untukku, juga dengan keputusan-Nya untuk menempatkanku di rumah ini.
            Awalnya Bu Hena dan Pak Rus tidak banyak bicara padaku yan kemudian aku ketahui alasannya dari ibu baruku itu, yaitu mereka tidak terbiasa berbicara dalam bahasa Indonseia. Mereka menggunakan bahasa Sunda untuk bahasa sehari – hari mereka, sehingga ketika mereka berbicara menggunakan Bahasa Indonesia, mereka menjadi agak kagok, ragu dan akut salah. Tetapi akhirnya aku berhasil meyakinkan meekan bahwa tak perlu ragu untuk berbicara Bahasa Indonesia padaku dan tak masalah bagiku untuk mencampur Bahasa Indonesia dengan Bahasa Sunda karena aku sedikit mengerti bahasa Sunda dan ingin banyak belajar dari mereka. Sejak saat itu mereka menjadi lebih percaya diri untuk berbicara denganku.
            Ternyata Allah tak salah menempatkanku di rumah ini dan di keluarga ini. Ibu dan bapak baruku begitu baik padaku, bahkan menganggapku sebagai anak sendiri. Mereka begitu perhatian, terutama untuk urusan makan. Mereka tak akan pernah membeiarkan perutku dalam keadaan kosong barang sedetikpun. Begitu banyak makanan hasil olahan sendiri yang disediakan setiap waktu  dan mereka tak segan menegurku kalau aku tak makan sekali saja. Mereka tak akan membiarkanku keluar Kampung Tambleg dalam keadaan kurus kering layaknya orang kurang gizi.
            Selain mendapat ayah dan ibu baru, aku juga mendapat saudara – saudara baru. Ibu dan bapak baruku mempunyai 2 orang anak, yang pertama perempuan dan yang kedua laki – laki. Anak perempuannya berumur 20 tahun yang sekarang tinggal di Bogor karena dia bekerja di sana. Namanya Henti. Karena jarang pulang aku belum pernah bertemu dengannya. Adiknya bernama Didi Mardiana. Seorang anak laki – laki berumur 4,5 tahun yang bisa dikatakan cukup aktif. Anaknya baik dan selalu ingin tahu, tetapi terkadang dia cukup bandel dank eras, susah untuk dinasehati. Tak jarang juga dia sering mengganggu teman – temannya sampai temannya menangis. Disinilah tantangannya bagiku. Terus terang kadang aku kewalahan menghadapi sikapnya, tetapi aku tahu pada dasarnya dia hanya ingin mencari perhatian. Orangtuanya selalu menyebutnya sebagai anak yang bandel, yang aku ketahui merupakan mindset buruk dan sugesti negative untuk anak balita sepertinya. Sedikit demi sedikit aku berusaha mencoba membalikkan mindset anak itu menjadi positif seperti “ Didi anak yang pintar “ atau “ Didi anak yang baik “.
            Entah mengapa Didi selalu ingin ikut denganku kemanapun aku pergi. Dia selalu menggandeng tanganku dan terkadang takmau lepas dariku. Tak jarang sampai menangis jika kutinggal. Aku tak mengerti jalan pikirannya. Apakah dia butuh kasih saying lebih, atau ia sedang merindukan kakaknya. Aku tak paham mengenai hal itu. Aku hanya berharap bisa menjadi kakak yang baik baginya.
            Didi mungkin terkesan agak keras, susah dinasehati dan terlalu cuek, tetapi aku tahu sebenarnya diam – diam dia memperhatikan. Pernah waktu itu di sela – sela kesibukannya bermain aku mencoba mengajarinya menyanyi.. “ Satu – satu aku saying ibu … dua – dua aku saying ayah ..tiga – tiga saying adik kakak … satu dua tiga … saying semuanya …”. Waktu itu dia sama sekali tidak menghiraukanku. Dia hanya terkadang mengikutiku pada suku kata terakhir. Selebihnya dia seolah tak peduli dan terlihat sibuk sendiri. Namun aku tak mau menyerah, aku ulang – ulangi lagunya sampai aku kelelahan sendiri. Suatu ketika ketika dia sedang bermain bersama bapaknya di kamarnya, aku mendengarnya mengobrol bersama bapaknya dan menyanyikan lagu itu dengan lancer. Senang sekali rasanya, walaupun seolah – olah tak peduli ternyata diam – diam dia memperhatikan apa yang kukatakan dan kuajarkan. Didi … oh Didi …
            Itulah keluarga baruku. Dengan segala suka duka di dalamnya, mengingatkanku pada keluarga di rumah. Ibu … ayah … adikku … bagaimana kabar mereka ya? Sudah lama rasanya aku tak bertemu dengan mereka. Semoga Allah menganugerahkan kepada mereka semua di sana. Amin…

Senin, 07 Januari 2013

Program SHARE SGI 4


Tak terasa sudah beberapa bulan kami, anak – anak SGI 4 menimba ilmu di asrama Sekolah Guru Indonesia dan tibalah saatnya kami menjalani program KKN kami yang disebut juga program SHARE ( SGI Help and Care ). Sebelum berada di tempat ini, kami anak – anak SGI 4 telah menyusun berbagai macam program pemberdayaan masyarakat. Program tersebut dibagi menjadi dua bidang besar yaitu Tambleg Cerdas dan Tambleg Sehat. Diharapkan nantinya masyarakat Tambleg bisa menjadi masyarakat yang tidak hanya memiliki kemajuan secara edukatif tetapi juga memiliki kesehatan fisik yang memadai. Program utama kami untuk Tambleg Cerdas yaitu mengenai pemberantasan buta aksara. Sebelumnya aku masih tak habis pikir ternyata di zaman yang sudah modern ini masih banyak orang – orang yang belum lancar membaca dan menulis, terutama untuk orang – orang di usia lanjut. Karena itu, kami mengantisipasinya dengan mengadakan program ini, sekaligus membentuk kader – kader baru yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangan kami walaupun kami sudah tidak KKN lagi.  Program – program untuk Tambleg Cerdas lainnya yaitu antara lain Istana Anak yang merupakan program untuk anak – anak pra – sekolah dasar sampai anak sekolah dasar yang memfasilitasi pendidikan tambahan di luar sekolah dengan cara yang menyenangkan dan dengan tujuan supaya dapat membuat anak semakin tertarik untuk belajar. Untuk anak – anak yang sudah SMP diadakan program bimbingan belajar, yang lebih dikhususkan untuk anak kelas 3 demi menghadapi Ujian Nasional. Kemudian, ada pula program Majlis Ta’lim untuk ibu – ibu yang lebih menekankan pada praktik ilmu agama dalam kehidupan sehari – hari dan program TPA untuk meningkatkan pengetahuan agama anak – anak. Program Tambleg Cerdas lainnya yaitu diadakannya berbagai macam pelatihan, seperti pelatihan guru, pelatihan masak dan pelatihan kerajinan untuk ibu – ibu dan juga pelatihan public speaking untuk anak remaja.
            Tidak kalah menariknya, Tambleg Sehat memiliki berbagai macam kegiatan yang sudah kami rancang.  Program utama Tambleg Sehat yaitu pembangunan MCK ( Mandi Cuci Kakus ) yang ternyata  belum dimiliki oleh semua warga Kampung Tambleg. Kami mencoba membantu untuk membangun dua MCK, di dekat masjid dan musholla dengan harapan kebutuhan masyarakat akan air dan sanitasi yang baik akan terpenuhi. Program tambahan lainnya untuk kegiatan Tambleg Sehat ini yaitu acara Jum’at bersih yang merupakan program gotong – royong masyarakat untuk bersama – sama membersihkan lingkungan, ada pula program senam bersama dan olahraga bersama yang diadakan setiap minggu pagi dengan harapan membantu meningkatkan kesehatan warga dengan cara yang menghibur dan menyenangkan. Untuk meningkatkan tali silaturahmi dan persatuan antar warga diadakan pula Lomba Sepak Bola dan juga Thibun Nabawi yaitu pengobatan ala Rasulullah dengan metode bekam. Semoga dengan program – program yang telah kami buat akan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan warga Tambleg. 

Jumat, 07 Desember 2012

Mari Peduli Bangsa


"GET INVOLVE 4 SGI Tamleg Peduli"
donasi dapat dikirmkan ke rekening BCA a.n Agoeng Indri Puspita norek 7150321161. CP Sari 0817 674 2721..
fastabikul khoirot yuks ^0^



Pussy Kucing yang Baik Hati




Pagi  ini begitu cerah. Tetapi tak secerah hati Pussy, seekor anak kucing betina berwarna coklat keemasan . Hari ini perasaannya deg – degan tak karuan karena akan ada yang mengadopsinya hari ini. Dia penasaran dan begitu was – was bagaimana majikan barunya nanti. Pussy mondar – mandir tak karuan di kandang tak sabar menanti kedatangan majikan barunya. Tak lama kemudian , sebuah mobil berhenti di depan Toko Peliharaan tempat Pussy berada. “ Wah..ini dia .. akhirnya datang juga, “ kata Pussy. Kemudian Pussy melihatnya, seorang anak perempuan bersama dengan ayah ibunya yang memasuki toko itu. Pak Anton, si penjaga toko peliharaan, menyambut mereka dengan keramahan. “ Selamat datang di toko kami, “ katanya sambil tersenyum manis. “ Seperti yang sudah saya janjikan, sudah saya siapkan kucing yang akan dibawa pulang. “ Hore…,” teriak anak perempuan itu kegirangan. Pak Anton mengambil kandang Pussy dan memberikannya pada mereka. “ Kucing maniss…mulai hari ini kamu akan tinggal di rumahku, “ katanya pada Pussy penuh keramahan. Pussy tersenyum, sepertinya dia akan jadi majikan yang baik, ujarnya dalam hati. Seketika hati Pussy begitu lega. “ Ayo Meila kita pulang, “ kata ayah anak perempuan itu pada anaknya. Ohh…namanya Kak Meila, kata Pussy.
Keluarga itu membawa Pussy pulang. Sesampainya di rumah mereka, Meila langsung membawa Pussy ke taman dan melepaskannya dari kandangnya. “ Hari ini kamu main – main ya di taman. Pasti sudah lama kamu tak berlari – lari, “ kata Meila seakan – akan dia mengerti perasaan Pussy. Pussy begitu bahagia, memang sudah lama dia tidak merasakan kebebasan. Di toko peliharaan, kerjaannya hanya tidur di dalam kandang. Pussy berlari kesana kemari sambil melihat – lihat tempat tinggal barunya.

Rabu, 05 Desember 2012

Permainan Sambung Kata



  •       Semua anak berdiri membentuk formasi secara melingkar.
  •       Latihan tepuk tangan dengan menepuk tangan sebanyak dua kali dan menepuk paha sebanyak dua kali secara berulang.
  •       Sambil menepuk paha menyebutkan kata, dimulai dari kita dan kemudian secara berurutan sesuai barisan, menyambung kata dengan menggunakan suku kata sebelumnya.
  •    .  Misalkan :  kita menyebut makan, kemudian orang kedua menyebutkan kantong, orang ketiga menyebut tongkat dan seterusnya secara berurutan sampai akhir.
  •       Ketika satu orang tidak bisa melanjutkan kata yang harus diucapkan permainan diulang mulai dari awal. 


Manfaat Psikologi Perkembangan dalam Proses Pendidikan dan Pengajaran Siswa SD


“ Seorang anak bernama Juan yang duduk di bangku sekolah dasar selalu membuat pusing gurunya. Di kelas dia selalu menjadi pembuat masalah dan susah diatur, sampai – sampai guru – guru kewalahan. Ketika dicari tahu lebih lanjut ternyata ada latar belakang masalah pada keluarganya. Orang tua Juan bercerai lima  ketika dia berumur tiga tahun. Sekarang dia dan ibunya, Anna, tinggal di apartemen kecil dekat rumah neneknya. Sebagai orang tua tunggal, Anna sering merasa kewalahan oleh beban pekerjaannya pada malam hari di restoran dekat rumahnya dan mengasuh anak usia dua tahun. Juan melewati pagi hari dengan bermain sendirian di kamar tidurnya dan menonton televisi ketika ibunya tidur. Namun, ketika dia bosan bermain dengan mainannya yang hanya sedikit di kamarnya, dia menuju dapur dan mulai menarik benda – benda dari laci dan almari. Kegiatannya ini biasanya membangunkan ibunya dan mengakibatkan dia mendapatkan pukulan di pantatnya. Tidak ada buku, majalah dan surat kabar di apartemen mereka. Ibu Juan tidak suka membaca dan lebih suka mendengar berita dari televisi. Kadang – kadang, Anna mengajak Juan ke taman untuk bermain, tetapi sebagian besar fasilitasnya sudah rusak dan didesain untuk anak yang lebih besar. Juan biasanya hanya bermain sendirian di kotak pasir dengan cangkir yang terbuat dari Styrofoam dan sendok – sendok plastic yang dia temukan di situ, sedangkan ibunya mengobrol dengan teman – temannya.
Juan mengagumi ayahnya, Miguel, dan meluangkan akhir pekannya sekali dalam dua minggu di apartemen ayahnya. Namun, ketika pulang ke rumah, ibunya mendapat dia tidak terurus dan suka membantah. Anna menyalahkan Miguel sebagai penyebab masalah perilaku anaknya, dan mereka sering bertengkar di depan Juan.  Nenek Juan khawatir terhadap pengaruh perceraian orang tua Juan terhadap perkembangan Juan.  Juan hanya mengucapkan dua atau tiga kata yang dapat dimengerti oleh orang lain dan tidak tertarik pada buku yang neneknya pinjam dari tetangganya. Jaun menjadi semakin agresif, memukul, berteriak, dan melempar benda – benda ketika dia  frustasi. Dia tidak mau membantu berpakaian sendiri, menentang ketika diminta untuk naik tempat tidur, dan sering malah lari ketika ibunya memanggil.  “
      Mendidik siswa Sekolah Dasar, hal yang tampak sepele tetapi ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Bolehlah kita berpikir secara materi pembelajaran tak sesulit materi SMP atau SMA, tetapi ada sisi lain yang harus kita perhatikan di sini, yaitu masalah psikologi perkembangan anak. Begitu pentingnya masalah psikologi anak khususnya untuk anak Sekolah Dasar karena pada masa – masa tersebut merupakan masa – masa berkembangnya anak.  Anak akan mengalami masa yang disebut sebagai masa keemasan pada saat usia dini dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis dimulai dari perkembangan berpikir, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0 – 8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Masa  ini dianggap sebagai periode kritis dalam perkembangan kepribadian karena merupakan periode di mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masa ini diletakkan. Masa perkembangan anak khususnya saat masa perkembangan dini, orang tua atau guru harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus karena hal itu tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan di masa yang akan datang.

Jumat, 23 November 2012

Hymne Guru

Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau Ibu bapak guru 
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku 
sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu…
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
 Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendekia

Sabtu, 10 November 2012

Kisah Alif Anak Autis



Assalaamu'alaikum ...
Ini ada cerita dari website sebelah tentang anak Autis di SD Lazuardi yg meninggal (sedih deh dan menyentuh.. banyak pesan moral yang bisa kita dapet dari cerita ini )
Namanya ALIF , anak autis yang perkembangannya sangat baik. Tapi  ALIF  lebih disayang Allah, sehingga harus dipanggil ke haribaanNYA ketika ia masih sangat belia. Semoga kisah ini memberi pelajaran kepada kita, agar selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah.
Mohon maaf apabila telah memperoleh sebelumnya.
Wassalam, 
TENTANG ALIF
Alif berumur 8 tahun 9 bln ketika meninggal, kelas 3 Michael Jordan  di SD Lazuardi-Cinere. Alif mempunyai daya tahan tubuh yang bagus   (tinggi 137 cm dengan berat 41.5kg), sehingga waktu awal desember'05 adik2nya kena campak dan flu, Alif sehat sehat saja.
Pada tgl 9 >> November'05 Alif disunat di dr Ariono (ngikut jejak Ikhsannya Bu Ita). Alif sendiri yang ngotot minta disunat setelah Lebaran, dan  minta gitara sebagai hadiahnya. Perkembangan Alif sangat  membanggakan, baik edukasi, sosialisasi, komunikasi, dan perilaku.
Sewaktu acara Isra Mi'raj di Lazuardi, Alif mengikuti lomba pidato  dan berhasil menjadi juara 1. Pada saat pengumuman pemenang, Alif  diminta tampil lagi berpidato di depan seluruh murid & guru SD & SMP Lazuardi. Adiknya Alif (Ifi) yg juga bersekolah di Lazuardi (kls 2),  cerita ke saya "Bunda, kakak Alif hebat deh, pidatonya bagus..gayanya  juga keren" , Alif menimpali "pidatoku kayak Bung Karno Bun...". Alif  juga hobby musik, les drum di Purwacaraka, dan setelah sunat dibelikan gitar krn diapun minat belajar gitar. Gurunya bilang :  "kalau game tebak lagu, pasti diborong Alif, dari mulai lagu  Peterpan, Jamrud, Gigi, Koes Plus, lagu2 baru di MTV, sampai lagu Oma Irama.....Alif pasti tau". Alif juga pencinta bola, ikut ekskul bola  di sekolah, dan tidak pernah absen nonton pertandingan bola. Alif  rajin sholat, jika Ayah tidak ada di rumah maka Alif yang jadi imam sholat untuk Bunda & adik2nya. Setiap Subuh, dia membangunkanku untuk  sholat. Dia nyalakan lampu kamar, matikan AC dan buka pintu, supaya  aku tidak berlama lama di bawah selimut.
Ketika dia melakukan  kesalahan, dan Bundanya cemberut, dia pasti langsung memelukku  "Ibun..(panggilan sayangnya untuk Bunda)", dan kalau aku diam saja  dia akan bilang " Ibun cantik, sayangku...cintaku...maafin aku dong  Bun". Biasanya saya luluh juga dan memeluk dia, menggelitik lehernya,  sampai dia tertawa kegelian.
HARI HARI TERAKHIR ALIF
Semuanya terus berjalan seperti biasanya, tapi bedanya setelah  disunat Alif sangat manja sama Bundanya, maunya dipeluk2, duduk  dipangkuan, sambil cium2 dan bilang "I love you Ibun..." Hari Kamis (15/12/05) ada acara ke Sea World dengan teman2 & guru2 Lazuardi,  disana Alif ikut game dan terlihat happy banget (saya lihat di  foto2nya, gaya Alif sangat ceria). Kamis sore itu, setelah saya pulang kerja, Alif bilang :"Bun, aku pusing, malam ini gak usah  belajar ya...". Seminggu menjelang EHB tgl 19/12/05, saya sudah  menyiapkan soal-soal latihan yang harus dikerjakan anak2 setiap sore,  dan malamnya kita review bersama-sama. Saya pegang lehernya, sedikit  hangat, dan saya jawab "Ya udah, kakak (panggilan kami untuknya) istirahat aja, biar nanti sehat waktu EHB". Dan seperti malam2  sebelumnya, Alif kemudian mengajak saya tidur. Dia selalu menunggu  saya, katanya : "kalau gak dipeluk Bunda, aku gak bisa tidur".   Menurut mbaknya, Alif sudah dikasih Panadol Syrup.
Besoknya, jumat (16/12/05) dia tanya :"aku sekolah gak Bun?" Aku pegang kening dan lehernya, sudah tidak hangat. Aku jawab :"Rasanya gimana Kak? Kalau sudah enakan bisa sekolah, tapi kalau masih pusing istirahat saja di rumah, biar nanti fit untuk EHB". Dan akhirnya  diputuskan hari itu Alif belajar di rumah saja, karena katanya masih pusing. Dan sayapun pergi ke kantor seperti biasa. Siang saya sempet tlp ke rumah, katanya Alif males makan tapi akhirnya mau juga makanbeberapa suap, dan Alif sempat muntah setelah makan. Saya  tanya :"apanya yang sakit Kak?" dia jawab :"perutku sakit Bun.." Aku  pikir masuk angin atau kecapek an kali sehabis dari Sea World.
Malam itu sepulang dari kantor, saya liat Alif habis sholat Maghrib bersama Ayah & Adik2nya, terus tiduran di kamar bawah dan bilang "malam ini aku mau tidur di kamar bawah saja dengan Ayah". Bunda : "tumben Kak gak mau tidur dengan Bunda. Ayah kan masih mandi, Bunda peluk dulu deh sampai kakak tidur". Alif :"Aku mau istirahat aja sendirian, Bunda jaga adik2 aja". Saya tetap saja peluk Alif. Sampai 3x Alif mengatakan kalimat yang sama "Aku mau istirahat sendirian, Bunda jaga adik2 aja". Sama sekali saya tidak menagkap firasat apa2. Akhirnya setelah menemani dia baca do'a sebelum tidur, saya cium dia dan membisikan "selamat malam sayang, mimpi indah ya...I love you" Alif menjawab "I love you.." . Ini memang sudah menjadi acara rutin sebelum tidur.
Sabtu (17/12/05) pagi, ketika saya keluar kamar, Alif sedang duduk nonton TV. Bunda : "mau sarapan Kak? Bunda suapin ya". Alif :"aku makan sendiri aja, tapi gak mau nasi, mpek2 aja (tanpa kuah cuka tentunya)". Mpek2 lenjer memang kesukaan Alif.
Dia ngajak jalan ke Pondok Indah Mall, tapi katanya mau ke dokter dulu biar cepet sembuh. Akupun siap2 untuk mengantar dia ke dokter, lagi2 dia bilang : "aku mau ke dokter sama Ayah, Bunda pergi dengan adik2 aja, nanti kita ketemu di Mall".
Pagi itu saya bawa adik2nya ke kantorku (ada acara sebentar), dan setelah itu bisa nyusul Alif & Ayah di PIM . Kita setuju mau jalan ke PIM 2, mengingat Alif sedang kurang nafsu makan, dan hobbynya makan Hoka Hoka Bento paket special 1 tanpa mayonaise dan tanpa udang gulung tepung (biasanya kalau makan ini, Alif jadi semangat makan dan habis 2 porsi). Alif terus dibawa ke dokter di Hermina Depok, menurut dokter hanya gejala flu dan dikasih parasetamol untuk mengurangi pusingnya.
Siang itu Alif hanya makan sedikit, dan tidak lama kemudian muntah. Sempat pesan hot tea di Regal Cafe, Alif terus tiduran di kursi. Jam 4 sore pulang ke rumah. Dia minta dibelikan bakso, tetapi baru habis 2 bakso, dia muntah lagi.Dikasih Vometa syrup agar dia tidak mual. Akhirnya tiduran sambil nonton bola di TV, masih berceloteh mengomentari permainan bola. Sejak jam 20.30 sesekali dia bilang dadanya sakit dan bilang "aku gak bisa muntah lagi Bun". Kita berpikir mungkin karena perutnya kosong dan dia mual, jadi dadanya terasa ketarik. Kemudian dia sempat buang air besar 2x di toilet, seperti biasa dia sudah bisa membersihkannya sendiri. Kita khawatir dehidrasi, jadi sering kita kasih minum air putih dan pocari sweat,  namun Alif muntah. Tapi kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, dia  masih jalan bolak balik kamar mandi - tempat tidur. Ketika saya peluk2, dia bilang : "Bun, adik Rafi mau susu tuh...bikinin dong". 
Ketika terlihat agak lemes, kita putuskan bawa ke rumah sakit terdekat (Hermina), karena takut keburu dehidrasi. Waktu diajak ke rumah sakit,  Alif mengangkat tangannya :"Gendong aku Ayah...". Sebelum digendong,  sempat saya kasih minum dulu, sekitar 1/4 gelas dia habiskan. Alif  diantar ayahnya ke rumah sakit sambil di gendong, saya nungguin adik2nya di rumah (Ifi 7 th dan Rafi 5 th) karena mereka tidak mau ditinggal. Menurut ayahnya, sekitar 10 menit dari rumah, tiba2 nafas Alif terdengar seperti orang yang sedang mendengkur dan mulut Alif  mengeluarkan busa. Setelah dipegang, dadanya berhenti berdetak.
Ayah  dengan panik terus nyupir ke Hermina Depok sambil satu tangan pegang2 dada Alif, sekitar 10 menit kemudian sampai RS langsung digendong ke  UGD. Dokter sempat melakukan upaya, namun menurut dokter Alif sudah  meninggal ketika sampai di RS. Menurut dokter UGD, Alif kemungkinan kena serangan jantung karena kuku jari tangan & kakinya, serta  bibirnya biru. Saya sempat tanya apakah ada kemungkinan keracunan,  karena dia sempat muntah. Tapi untuk mengetahui penyebab meninggalnya Alif, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut (otopsi). Saya gak  tega kalau badan Alif harus ditusuk2 jarum dan disayat pisau bedah. 
Akhirnya saya & suami pasrah dan membawa  Alif pulang ke rumah. Kami menolak menggunakan ambulans, saya gendong  dia di kursi belakang, dan suami saya nyupir. Saya ingin, untuk  terakhir kalinya, menemani & memeluknya tidur di rumah. Wajah Alif  seperti sedang tidur, tenang sekali, dan bibirnya tersenyum. Malam itu, masih dengan baju tidur, bantal, dan selimutnya, Alif saya peluk  sampai pagi. Ketika dimandikan paginya, saya lihat di bahu kiri dan  punggungnya terlihat biru lebam.
Walaupun dari setelah Subuh Alif sudah selesai dimandikan, namun saya  masih menunggu  teman2 & guru sekolahnya Alif datang. Alhamdulillah,  sahabat2 & guru2nya banyak yang datang, dan jam 10.00 hari Minggu (18/12/05) Alif disemayamkan di Pemakaman Umum Kalimulya II Depok.
Banyak yang mengantarkan Alif ke tempat peristirahatan terakhirnya  (Satpam kompleks sempat menghitung iring2an mobil yang mengantar  sebanyak 102 mobil). Alif-ku tersayang telah pergi dengan damai, ditemani dengan seluruh orang2 yang mencintainya. Selamat jalan  sayang.... Bunda sangat bangga sama Kakak yang dengan tenang dan berani menghadapi maut dengan senyuman. Bunda yakin, Allah pasti membukakan  pintu surga untuk Kakak.....

Minggu, 04 November 2012

Kata Terlarang


Sebuah kata yang paling kubenci
Dalam kehidupan ini
Yang selalu menyihirku
Menjalani kehidupan palsu
Kata itu lagi, lagi dan lagi
Muncul mengalir deras menimbulkan kegundahan hati
Kenapa harus selalu begitu tanyaku
Setiap kali aku mendengarnya
Salah…..itu salah…teriakku
Semuanya seakan tak mengerti
Kemudian muncullah kata itu kembali
Jantungku seakan terhenti
Sudah cukup hentikan permainan ini
Jangan kalian mulai lagi
Aku sudah terlalu lelah
Hadir dalam kepura - puraan
               


Kebebasan


Suatu makna yang sedang kucari
Belum pernah kumenemukannya
Sepanjang perjalananku
Kumulai menghentikan langkahku mencoba bertanya
Apakah arti itu semua
Ketika perjalananku sudah kian jauh
Kembali lagi terjadi dan terjadi
Mencoba  melupakan semuanya
Melepaskan genggaman erat yang sudah terikat kuat
Tetapi mengapa semuanya tak kunjung tiba
Kumencoba memahami yang sebenarnya aku  tahu pasti
Memutar waktu aku  mencoba kembali
Melihatku di masa itu yang tak pernah aku sadari
Membuatku kian menyesali
Sudahah cukup sudah
Mundur itu akan tak berarti
Lari ..lari dan terus berlari
Kemanapun aku ingin mencari
Tetapi aku selalu saja tertangkap
Oleh bayang – bayangku sendiri
Puluhan tahun sudah dan aku masih melihatnya
Harapan rasa aman dan kasih sayang
Kenapa semuanya menjadi kian merekat
Kembali membuat luka
Apakah mungkin  keluar dari jurang keterpurukan
Meraih keinginan
Kebebasan


( 3-11-2012 )

Guru sebagai Pengajar, Pendidik atau Pemimpin


Guru. Satu kata seribu makna. Banyak orang  masih berpikiran sempit mengenai makna guru. Bagi mereka guru hanyalah sekedar pengajar di depan kelas, yang mentransfer ilmu mereka, membuat siswa dari yang sebelumnya tak bisa menjadi bisa ataupun dari yang tak tahu menjadi tahu. Tetapi sebenarnya jauh lebih dari itu, peran guru begitu besar, tak hanya pengembangan dari aspek ilmu pengetahuan saja, juga aspek – aspek kehidupan yang lain. Guru yang baik bukanlah guru yang sekedar mengajar, tetapi lebih dari itu. Banyak sekali yang harus diberikan kepada siswa selain ilmu pengetahuan. Guru adalah pengganti orang tua saat di sekolah. Karena itu guru bertugas mendidik pula, seperti halnya ibu dan ayah.
Guru yang baik bertugas mendidik anak – anak didiknya, memberi contoh yang baik dalam moral, budi pekerti dan tingkah laku, sehingga bisa menjadi teladan siswa – siswinya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mereka sadar betul akan apa yang ada di hadapannya, calon – calon generasi penerus bangsa yang akan datang. Siswa - siswa itulah yang nantinya akan menadi pemimpin bangsa. Itulah tugas guru sebenarnya sebagai seorang pendidik. Ada satu hal lagi yang tak boleh terlupakan sebagai seorang guru. Guru adalah pemimpin. Guru seyogyanya dapat mengatur, mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, khususnya anak didinya sehingga ia dicintai. Selalu membimbing dan mengajari anak didiknya sehingga dapat membawa ke perubahan yang lebih baik.
            Artikel “ Guru dan Murid Istimewa “   ditulis oleh Bapak Asep Sapa’at yang membahas film Taare Zameen Par, berbicara banyak mengenai peran guru, yang tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik dan juga sebagai pemimpin.  Berikut merupakan contoh kutipan - kutipan yang membedakan antara peran guru sebagai pengajar, pendidik ataupun pemimpin yang diambil dari artikel “ Guru dan Murid Istimewa “ karya Pak Asep Sapaat :
1.      Guru sebagai pengajar

ü  Guru Nikumbh mengenali Ishaan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Ishaan punya masalah disleksia.
ü  Guru Nikumbh sadar sepenuhnya, Ishaan punya persoalan disleksia yang turut memengaruhi prestasi akademiknya
ü  Terlebih ketika Nikumbh dengan segenap rasa cinta mengajari Ishaan belajar membaca, menulis, dan berhitung.
ü  Thinking out of the box, cara mengajarnya pun kreatif dan sangat kontekstual dengan kehidupan murid

Penjelasan :

      Guru sebagai pengajar melakukan  perubahan atau mentransformasi siswa – siswanya, dari tak tahu menjadi tahu ataupun dari tak bisa menjadi bisa. Berdasarkan artikel tersebut, Guru Nikumbh mengajari Ishaan  belajar membaca, menulis dan berhitung. Selain itu, Guru Nikumbh juga sadar sepenuhnya bahwa Ishaan punya masalah disleksia yang mempengaruhi prestasi akademiknya. Hal itu berarti Guru Nikumbh berperan sebagai pengajar yang mentransfer ilmu kepada anak didiknya untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa. Guru sebagai pengajar juga harus mengerti kelebihan dan kekurangan masing - masing siswa dalam materi – materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dalam proses mengajar di sekolah, kekreatifan guru sangat dibutuhkan, supaya dapat menarik perhatian siswa sehingga memudahkan siswa untuk memahami materi.

2.      Guru sebagai pendidik

ü  Mulia bukan karena semata berprofesi sebagai guru, tapi justru karena perilakunya yang patut digugu dan ditiru. 
ü  Kemuliaan itu semakin tampak ketika perilaku guru berkiblat pada kebajikan. Kehidupannya memberi inspirasi serta mampu menyentuh kehidupan murid-muridnya.
ü  Totalitas dan kecintaan pada murid, kunci sukses seorang guru bisa menjadi sosok spesial di mata murid-murid. Setiap kata dan perbuatan guru itu mesti bijaksana. Eloknya jika data serta fakta ikut dihadirkan dalam menyampaikan suatu hal
ü  Kalau bukan karena cinta pada sang murid, mustahil seorang guru datang ke rumah orang tua siswa yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer
ü  Kalau bukan karena kesungguhan hati, sang guru pasti akan kehabisan akal serta kesabaran duluan sebelum persoalan berat yang menimpa muridnya dituntaskan. 
ü  Itulah perasaan cinta sang guru, yang bisa melakukan apa pun yang terbaik untuk muridnya. Dialah manusia pilihan, yang bersedia menjadi pijakan bagi kesuksesan dan kebahagiaan murid-muridnya.

Penjelasan :

Guru sebagai pendidik memberikan contoh dan teladan baik kepada siswanya. Segala sifat, perilakunya dan tindak tanduknya akan dicontoh oleh anak didiknya. Karena itu hendaknya guru selalu menjaga pikirannya, tutur katanya dan perilakunya. Selain itu guru sebagai pendidik seharusnya memiliki kedekatan emosional dengan siswanya. Mereka mencintai murid – muridnya dan mendidik dengan penuh kesungguhan hati dan sadar betul bahwa masa depan bangsa ada di tangan anak – anak didiknya.

3.      Guru sebagai pemimpin
.
ü  Seperti yang dilakukan guru Nikumbh pada Ishaan. Mengubah jalan kehidupan Ishaan dari masa suram menjadi masa-masa yang membahagiakan.
ü  Nikumbh tak gentar untuk berdebat dengan orang tua Ishaan karena punya banyak bukti yang bisa dipertanggungjawabkan
ü  Dia tampilkan dirinya sebagai sosok yang tak sok tahu. Dia hindari sikap "merasa" paling benar. Argumentasinya cerdas dan bernas, lengkap dengan semua produk karya tulis dan hasil lukisan Ishaan.
ü  Jika dia tak mampu bakar semangat murid untuk belajar, tahan dulu anggap dirinya guru hebat. 
ü  Guru hebat, dia mampu memotivasi serta menyadarkan murid untuk apa dan untuk siapa dia belajar dalam kehidupan ini.

Penjelasan :

Guru sebagai pemimpin mampu mengatur dan membawa perubahan untuk anak didiknya ke arah yang lebih baik.  Dalam bacaan di atas dijelaskan bahwa Guru Nikumbh dapat mengubah kehidupan Ishaan, yang dulunya dianggap tidak bisa apa – apa kemudian dapat mencetak prestasi yang luar biasa. Guru Nikumbh mampu memunculkan potensi terpendam muridnya, karena pada dasarnya setiap anak pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing – masing. Karena itu yang perlu kita sadari adalah kita tidak dapat hanya melihat aspek kepiandaian seseorang hanya dari satu sisi, yaitu sisi akademisnya saja, tetapi masih banyak aspek lain yang perlu dinilai dan diperhatikan. Sosok Guru Nikumbh juga begitu rendah hati yang merupakan jiwa pemimpin yang baik dalam kehidupan. Pemimpin yang baik juga mampu membakar semangat dan memotivasi anak didiknya supaya menjadi pemimpin ke  arah perubahan yang lebih baik.