Masih tentang hujan. Hujan memang tema yang menarik untuk dibahas, karena hujan selalu dapat bercerita, itu pun jika kamu mampu mendengarkannya :). Satu hal yang bisa menjadi pelajaran, beberapa hari ini ada ketaksengajaan tak baik yang terkadang saya lakukan, yaitu munculnya kata - kata, "Yahh..hujan.." Baik itu dari lisan maupun hati yang berbicara. Istighfar pun menjadi keharusan yang dapat dilakukan, turut bersama penyesalan. Yaa.. kegiatan di luar dan tak adanya jas hujan saat itu membuat saya terus terang selalu merasa panik ketika mendung tiba. Di satu sisi saya bahagia karena butiran - butiran air akan segera mendinginkan kota yang akhir - akhir ini luar biasa panas. Di sisi lain egoisme pribadi turut berkata, bagaimana saya dapat keluar atau bagaimana saya dapat pulang. Itulah. Padahal diri cukup tau bahwa merutuki hujan itu tak diperbolehkan. Tetapi kadang diri tak sadar untuk mengeluhkan keadaan. " Bukankah hujan adalah berkah? Berkah bagi saudara - saudara kita di Riau, berkah bagi pedagang jas hujan, berkah bagi penjual jasa ojek payung, berkah bagi para petani dan berkah bagi kita semua. Tak ada kehidupan tanpa adanya hujan yang diturunkan-Nya di bumi ini. Karena itu sangatlah tak bijaksana untuk mengeluhkan hujan sebab selalu ada berkah di setiap butiran air yang turun. Mari belajar..untuk selalu menyambut positif kala hujan turun, tanpa protes, tanpa keluhan dan tanpa kesedihan. Satu hal yang harus diingat, salah satu waktu yang diijabah Allah ketika berdoa yaitu doa di kala hujan. Yaa.. sambutan yang paling indah adalah dengan doa. Jadi mumpung musim hujan, mari banyak - banyak berdoa. Semoga Allah perkenankan." Nasihat Hati. #LeraningFromLife
Senin, 09 November 2015
Rejeki Penjual Jas Hujan
Alhamdulillah..beberapa hari ini hujan telah menyapa riang Kota Yogyakarta. Di siang hari yang biasanya kulit tersengat panas matahari dan peluh bercucuran di setiap senti tubuh, kini berkah langit mulai mengguyur, menyapu ramah kota budaya ini. Mendung. Adem. Angin, tak lupa turut menemani suasana yang memang sangat mendukung untuk hanya beristirahat di rumah saja ( baca : kos ). Sayangnya, sebagai orang yang punya hobi keluyuran dan menjelajah kesana kemari, ternyata amunisi untuk kegiatan "mbolang" masih belum lengkap. Di musim hujan yang mulai tiba ternyata saya tidak punya jas hujan. Walhasil dari kemarin pulang bepergian selalu sukses basah kuyup. Hmm.. ini darurat. Harus segera hunting jas hujan sepertinya.
Saya tidak tahu harus mencari kemana. Hari ini setelah pulang dari warnet, dengan tubuh setengah basah saya menyempatkan diri mampir ke Kopma UGM. Di pinggir lemari minuman ternyata ada beberapa jas hujan yang digantung. Setelah dilihat - lihat dan dipilih - pilih ternyata tidak ada yang sesuai harapan. Akhirnya saya keluar dengan tangan kosong.
Tiba - tiba saya gagal fokus. Saya berpikiran untuk membeli sepatu karet karena sepatu yang biasa dipakai masih basah akibat hujan kemarin. Dari kejadian itu tiba - tiba kebutuhan bertambah, saya butuh sepatu karet. Saya ingat ada penjual sepatu itu di pinggir jalan depan kampus UNY dan saya langsung berangkat ke TKP. Di tengah jalan hujan turun semakin deras dan tiba - tiba saya menyesal, harusnya saya cari jas hujan dulu yang lebih penting. Yaa..sudahlah, sudah setengah jalan, perjalanan pun dilanjutkan. Sampai di lokasi ternyata Pak Penjual menggantung beberapa jas hujan di depan tenda dagangannya. Wah..alhamdulillah bisa sekalian beli juga. Dipilih...dipilih...ditawar...ditawar..yah sayang sekali, saya bukan orang yang pintar menawar, dapat harga yang lumayan tinggi menurut saya. Tetapi yaa sudahlah..lagian hujan sudah turun semakin deras dan saya butuh itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli jas hujan dan tidak jadi membeli sepatu karena uang yang saya bawa pas - pasan.
Sebelum pulang saya menyempatkan diri ke Mirota Kampus untuk cari payung, karena benda itu juga penting di musim hujan begini. Di lantai 3 Mirota sudah banyak orang dengan pikiran yang sama dengan saya, mereka tampak sibuk memilih - milih payung yang ada. Tersisa sedikit pilihan, yaa sudahlah tak apa - apa. Di samping boks yang berisi payung, saya sempat melirik di sampingnya ada berbagai macam jas hujan yang dijual. Yaelah..jauh - jauh cari ternyata di mirota yang dekat kos juga ada. Karena penasaran, saya coba cek harganya. Dan...ternyata...dengan model yang sama harganya bisa setengah kali lebih murah harga yang saya beli tadi. Perasaan menyesal langsung menyelimuti diri. Hixs....hixs...
Astaghfirullahal'adziim. Tak boleh menyesal ya. Setelah dipikir - pikir, mungkin itu memang rejekinya Bapak Penjual tadi. Ikhlaskan saja, niatkan untuk kebaikan memberi, hati ini menceramahi. Ada saja ya jalan Alkah untuk memberi rizki hambaNya. Kenapa tiba - tiba saya membeli di tempat itu, tempat yang lebih jauh, tak ada yang tau. Kalau itu dibilang kebetulan, juga pastinya tidak tepat, semua pasti sudah dituliskan olehNya..jauh sebelum kita ada. Karena itu jangan pernah ragu atas rejeki yang belum datang, karena Allah punya berbagai jalan untuk mendatangkannya, seperti rejeki Pak Penjual hari ini. Yakini saja. Insya Allah. #LearningFromLife
Rabu, 04 November 2015
Pengalaman Mengikuti Seleksi Beasiswa LPDP
Sabtu, 31 Oktober 2015
October. End.
Adanya momen awal dan akhir bulan sebenarnya adalah hal yang baik untuk kita melakukan muhasabah diri, instropeksi untuk perbaikan diri yang lebih jauh. Hari ini adalah akhir bulan Oktober, kita dapat kembali berkaca, melihat berbagai keburukan diri mana yang dapat diperbaiki. Mana pula kebaikan yang sudah dilakukan untuk terus dipertahankan ataupun ditingkatkan. Biarkan hati dan pikiranmu yang menilai semuanya. Akhir - akhir ini saya kerap berpikir mengenai " Proyek Hidup", rencana terstruktur untuk memperbaiki bagian dirimu yang rusak, membangun hidupmu kembali hingga menjadi kokoh tak mudah goyah. Proyek hidup akan mengarahkanmu, mengingatkanmu selalu kalau kamu mulai salah arah, jauh dari tujuan. Ayo buat proyek hidupmu!! Semangat membangun dirimu !!
Kamis, 29 Oktober 2015
Awardee LPDP PK 40 - Kemilau Nusantara-
Saya sendiri tak tahu mengapa saya seberuntung itu untuk dapat bertemu dengan orang - orang inspiratif di sekeliling saya. Terkadang saya merasa tak pantas karena sungguh saya bisa jadi orang yang paling biasa di antara mereka. Tetapu selalu ada pelajaran di dalam setiap kehidupan. Allah mungkin ingin mengajarkan sesuatu, bertemu dengan orang - orang hebat untuk membuat saya termotivasi untuk belajar menjadi hebat seperti mereka. Banyak yang harus dipelajari. Banyak yang harus diperbaiki. Alhamdulillah wasyukurilah terima kasih atas kesempatan indah dalam hidup saya Wahai Ya Rabb. Terima kasih juga kepada orang - orang hebat yang telah bertemu dan menginspirasi saya dalam hidup. Semoga saya bisa menjadi sehebat kalian ^_^
Rabu, 28 Oktober 2015
Susahnya Matematika K13
Sempat berkecimpung di dunia pendidikan membuat banyak pengalaman dan ilmu baru yang saya dapatkan. Khususnya mengajar Matematika tingkat SMA yang cukup membuat otak berpikir keras, bukan hanya berpikir mengenai sulitnya soal - soal yang ada tetapi lebih daripada itu, bagaimana cara memberikan pemahaman pada siswa. Tak mudah membuat mereka mengerti, apalagi mindset buruk dari awal yang mengatakan bahwa matematika itu susah, momok, tak penting dan sebagainya. Betapa itu menjadi beban tersendiri bagi pengajar.
Apalagi ketika saya pertama kali membaca silabus matematika Kurikulum 2013. Saya hanya dapat menggeleng - gelengkan kepala dan bertanya dalam hati, ini serius materi - materi yang diajarkan seperti ini tingkatannya. Entahlah, mungkin saya saja yang menganggap materi yang diberikan terlalu tinggi untuk anak - anak SMA. Pada kurikulum baru ini Matematika sendiri dibagi menjadi 2 yaitu matematika wajib yang dipelajari seluruh siswa IPA dan IPS dan matematika peminatan yang dipelajari khusus oleh siswa IPA. Selain itu, ada beberapa materi - materi baru, misalnya saja uji hipotesis dan distribusi binomial untuk kelas XI yang saya sendiri baru mendapatkannya di masa kuliah. Ada pula materi induksi matematika, jumlahan riemann dan matematika keuangan sebagai materi baru di kelas XII yang semuanya adalah materi yang saya dapatkan saat kuliah. Bahkan untuk matematika keuangan saja, saya semasa s1 belum pernah mengambil mata kuliah tersebut karena termasuk kuliah perminatan. Sekolah kok susah ya, curhat mereka.
Saya entah mengapa merasa heran, mungkin saya yang belum tau motif dan tujuan diberikannya materi - materi baru tingkat universitas sehingga dalam pikiran saya materi - materi tersebut terlalu tinggi dan tak perlu diberikan untuk anak SMA , kecuali bagi mereka yang memang benar - benar berniat mengambil jurusan matematika nantinya, bisa jadi itu bermanfaat ke depannya. Sangat disayangkan kalau para siswa harus terbebani dengan banyaknya hal yang harus dipelajari namun tak ada satupun ilmu yang terserap dan tersisa. Semua nampak percuma. Ilmu - ilmu dasar saja yang diajarkan kemudian biarlah mereka yang mengembangkan ilmunya sendiri sesuai dengan minatnya bisa menjadi alternatif lebih baik yang dapat dipertimbangkan. Entahlah..tetapi untuk pelajaran matematika sendiri jujur saja saya lebih sreg menggunakan silabus KTSP daripada Kurikulum 2013. It's just my opinion. Cmiiw.
Menulis Impian
Setiap orang punya impian. Itu pasti. Tetapi tak semua orang punya impian yang tertulis. Apa sih perlunya menuliskan impian dan mengapa hal tersebut dianggap mampu untuk mewujudkan impian kita dengan lebih mudah? Menurut saya seperti ini, ketika kita menuliskan impian kita, apalagi dengan membacanya berulang kali untuk dievaluasi, maka secara tak langsung impian itu akan masuk dalam ranah alam bawah sadar kita yang kemudian akan membuat kita entah disadari atau tidak mulai mendekati si impian untuk diwujudkan ( baca juga buku rekomendasi : Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu). Ketika kita tak menuliskannya, bisa jadi di lain waktu karena keterbatasan kita kemudian kita lupa dan kemudian menyesali keadaan ketika semuanya sudah terlambat dan tak ada waktu lagi untuk mewujudkannya. Say goodbye to dream. Tak mau itu terjadi kan
Saya mengetahui pentingnya menulis impian ketika saya duduk di bangku SD. Saya sangat ingat ketika menjelang EBTANAS pada masa itu (zaman apaa tuhh :p) kami para siswa dipanggil secara bergiliran ke ruang kepala sekolah. Waktunya saya masuk dan kepala sekolah saya pada masa itu, Bu Suci, memberikan potongan kertas kecil sekitar 10 cm x 10 cm untuk ditulis. Kemudian, beliau memberikan Al Qur'an dan menyuruh saya menulis sebuah ayat yaitu
Jujur saja kemudian saya tak ingat lagi mengenai kertas keinginan tersebut sampai pada pengumuman kelulusan keluar dan Alhamdulillah ketika dilihat hasilnya sungguh mencengangkan.. tanpa disadari nilai yang ada mendekati apa yang saya telah tuliskan. Total danem yang didapat pun persis sama hanya beda koma. Allahu Akbar.
Itulah salah satu pengalaman pertama saya tentang menulis impian. Kemudian sejak kejadian tersebut saya jadi terbiasa untuk menuliskan apa yang saya ingin capai ( Terima kasih Bu Guru :) ) Sampai akhirnya saya bisa masuk di jurusan yang diinginkan, lulus sesuai keinginan dan berbagai target lain yang Alhamdulillah tercapai. Saya percaya menulis impian punya andil dalam memudahkan pencapaian keinginan kita, selain dengan usaha keras dan doa juga tentunya. Try this!!! Sekian. Semoga menginspirasi ^_^
Selasa, 27 Oktober 2015
Minimal Saldo di Bank Supaya Tidak Berkurang
Perbandingan Angsuran antara Bank Syariah dan Bank Konvensional
Kamis, 30 Oktober 2014
Tetesan - Tetesan
Gersang telah cukup lama menyapa. Kering dan panas beradu bersama debu, menemani hari yang sepi. Rasa - rasanya sudah hampir lupaku pada tetesan itu. Berkah - berkah Illahi yang jatuh ke bumi. Sudah lama. Benarkah aku tak bermimpi? Kujumpainya di pengujung malam. Walau hanya suara berbisik yang tak sanggup kupandang. Terlalu hina, mengabaikan semuanya. Benarkah tak hingga dosa menahan setiap langkah yang ada. Bahkan bergerak pun payah. Akal terus berjalan mengikuti indra pendengaran. Harusnya ya..harusnya..tetapi nyatanya tak demikian. Lumuran debu rupanya erat menempel. Bisikan itu pun merayu. Perlu peyucian, sepertinya. Kesempatan itu hilang. Dan detik ini tetesan itu kembali hadir. Bukan di luar melainkan di dalam. Bukan lagi keberkahan melainkan kesalahan. Kesalahan sebagai pembungkus, tetapi tetap indah isi dan dalamnya, selalu, membuatku terbangun. Sebuah hal yang membuka pikiran. Cukup berat tapi tak cukup kuat, deras. Oh kini tau rasanya. Inilah sebuah pelajaran? Sebuah episode, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena ada Sang Maha Pengasih lagi Penyayang.
Selasa, 28 Oktober 2014
Fenomena Jurusan Kedokteran
Minggu, 26 Oktober 2014
Muhasabah 1 Muharram
"Renungan umur kita".1 hari di sisi Tuhanmu (akhirat) adalah spt 1000 th menurut perhitunganmu. (QS 22: 47). "Ternyata cuma 1,5 jam saja umur kita hidup di dunia ini". Mari kita lihat berdasarkan Al Qur'an.1 hari akhirat = 1000 tahun.3 jam akhirat = 125 tahun.1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.Jika umur manusia rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja. Pantaslah kita selalu diingatkan "masalah waktu" (QS : 103:1) Ternyata hanya " satu setengah jam saja" yg akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka. (QS 35:15, 4:170).Cuma "satu setengah jam saja" cobaan hidup, maka bersabarlah (QS 74:7, 52:48, 39:10).Demikian juga hanya "satu setengah jam saja" kita harus menahan nafsu dan mengganti dengan sunnah-Nya. (QS 12:53, 33:38)."Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Allah akan mengganti surga Ridha Allah. (QS 9:72, 98:8, 4:114).Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sungguh2 mengetahui" (QS 23:114)
Copas from wa
Minggu, 15 Juni 2014
Fenomena CHSI
Sinetron Catatan Hati Seorang Istri yang ditayangkan di salah satu stasiun tv swasta di Indonesia tiba tiba mengingatkanku pada salah satu buku yang tersimpan di sudut lemari kaca tempat buku - bukuku berada. Dengan judul yang sama, sinetron ini memang diadaptasi dari buku kumpulan kisah nyata karya Asma Nadia. Cukup membaca buku ini sekali saja membuatku enggan untuk membacanya lagi. Bukannya tak bagus, buku ini justru mengungkapkan realita tak menyenangkan yang banyak terjadi di masyarakat yang mungkin kurang diketahui kaum awam. Ketika sebagian besar buku sekarang ini mengompori masyarakat untuk segera berumah tangga, justru dalam buku yang berisi kumpulan kisah nyata mengenai berbagai masalah dalam rumah tangga ini membuat kita berpikir dua kali untuk menikah. Mengingat tak hanya hal menyenangkan saja yang akan menikah tetapi lebih banyak kemungkinan banyaknya badai masalah yang akan menimpa. Emosi itu muncul ketika membaca bukunya ataupun menonton sinetronnya. Membuat kita berpikir, kenapa kaum laki - laki itu seperti itu. Tega sekali. Tak ada yang bisa dipercaya. Sama saja semua, dan berbagai komentar negatif lainnya
Memang buku ini banyak menonjolkan keburukan - keburukan kaum adam. Jadi parno sendiri. Kisah KDRT, perselingkuhan, perceraian dan lain lain, sungguh mengerikan bagiku, lebih horror dari film horror sekalipun. Sebuah kisah yang paling aku dan seorang sahabatku ingat yaitu kisah "Sponge Bob". Lelaki yang tampak baik dan sempurna, rajin ibadahnya dengan ilmu agama yang bisa dikatakan baik ternyata diam diam melakukan perselingkuhan di belakang. Sungguh tak ada yang menyangka. Membuat emosi dan hatiku ikut sakit membayangkannya, walaupun bukan aku sendiri yang merasakannya sendiri. Sedih..hixx..Dan kenyataannya semua itu adalah cerita asli. Tak menjamin bukan, apa yang ada di depan bisa jadi berbeda dengan yang ada di belakang. Baik kelihatannya tetapi buruk kenyataannya. Tetapi tetap aku merekomendasikan buku ini sebagai referensi untuk dibaca para wanita supaya dapat mengambil pelajaran dan siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di luar sana.
Sabtu, 14 Juni 2014
Syukurilah Sahabat!!
Di ujung fajar yang tengah menyingsing, aku masih duduk berdua bersamanya, sahabat diri. Diam. Tak ada satupun dari kami berdua yang bersuara. Hanya ada bisikan angin yang terkadang menjatuhkan satu persatu dedaunan dari singgasananya. "Aku iri, "akhirnya sahabatku mulai mengeluarkan suaranya, bersamaan dengan suara jangkrik yang tak henti - hentinya berbunyi. "Iri?" Aku tak mengerti. Terlintas beribu pertanyaan di benakku. "Mereka begitu cantik," lanjutnya, mengeluarkan sepotong kalimat yang lagi lagi membuatku mesti berpikir. "Siapa??Kau pun cantik" kataku. "Tak secantik mereka," dia menghela napas panjang, menunduk sambil memainkan jemarinya. Pikirannya tampak melayang layang entah kemana. "Aku pun tak cantik tapi tak jadi masalah kan. Hatimulah yang akan menentukan segalanya," ujarku menasihati. " Tetap saja..kenapa aku tak secantik mereka??!!"dia berteriak keras menumpahkan segala emosinya. Sahabatku yang malang, sedang dilanda kegelisahan akibat kekurangsyukurannya sendiri "Apa masalahmu sebenarnya?"tanyaku ingin tau. Dia berkata lemas, "tak ada yang menyukaiku.." Aku tak mengerti apa yang dipikirkannya, tetapi sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraannya. "Apakah sesempit itu penilaianmu? Kecantikan bukanlah hanya pada apa yang tampak di pelupuk mata. Keindahan akhlak dan keteguhan iman lah yang utama,"nasihatku. Dia tertegun sejenak dan berpikir. "Sama saja, " katanya" teori. Nyatanya banyak hal yang tak mengerti akan hal itu. Keterbatasan indera penglihatan saja yang mereka pakai. Dan hampit semua manusia begitu. Sama saja tak ada bedanya." "Apa gunanya mengurusi mereka,"kataku sewot" apakah kamu rela waktumu terbuang untuk memikirkan manusia yang tak memiliki mata hati?" Dia tertegun. " Sungguh kawann.."lanjutku" Kesederhanaan dan ke"biasa"an mu yang justru akan menjadi cahaya dan magnet ketulusan abadi yang tak dimiliki oleh siapapun. Terkadang orang-orang menjadi buta oleh mata sendiri, lupa akan mata lain yang seharusnya justru dibuka untuk penentu segala keputusan. Bersyukurlah dan rasakan ketulusan hati orang - orang di sekelilingmu dengan mata hatimu. Tak mau hidup bersama orang "buta" kan??". Kami pun terdiam lama. Dia sibuk dengan kontemplasinya dan aku dengan kontemplasiku. Akhirnya dia pun tersenyum, " yaa.. aku beruntung, " katanya" Allah menganugerahkan kekuranganku sebagai penentu ketulusan hakiki. Aku tak mau hidup bersama orang "buta" dengan pikiran sempit yang hanya menilaiku dari lahiriahku saja. Terima kasih sahabat," ujarnya tampak lega. Ohh sahabatku..singsingkan kekhawatiranmu. suatu hari kau akan menemukannya, orang tulus itu, yang dapat menggunakan mata hatinya dengan baik, aku yakin itu. Aku pun tersenyum bersamanya. Dan di hadapan kami sang surya mulai meninggi dan menyaksikan kami dengan pancaran kehangatannya .